
Kegiatan studi lapangan (stulap) merupakan agenda tahunan Bidang Pembantu Akuntan (PA) STAN kerja bareng dengan Divisi PSDM, Himpunan Mahasiswa Penilai. Kegiatan ini ditujukan untuk mahasiswa tingkat akhir D-III Penilai. Stulap 2012 telah terselenggara pada Kamis tanggal 2 Februari 2012 di PT Chevron Geothermal Salak Ltd., Bogor. Peserta stulap tahun ini berjumlah 100 orang, yakni 98 orang dari tingkat tiga dan 2 orang dari tingkat dua.
Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah peserta mampu membandingkan teori yang diperoleh di perkuliahan dengan kenyataan di lapangan seperti bidang penilaian properti khusus, manajemen properti, danpemeliharaan bangunan sehinggamahasiswa memahami tentang seluk beluk properti tersebut. Selain itu, Calvin Valenzuela, selaku Korlak Stulap 2012 menambahkan,”Saya berharap kegiatan stulap ini dapat meningkatkan pengalaman teman-teman penilai angkatan 21 di bidang penilaian properti, khususnya PLTP dan Well juga meningkatkan solidaritas penilai”.
Tepat pukul 05.45 di lokasi air mancur STAN, Bapak Ali Tafriji “Altaf”, mewakili Bidang Pajak STAN, memberikan pengarahan sebelum peserta secara resmi diberangkatkan.”Manfaaatkan momen ini untuk menggali ilmu dengan sebaik-baiknya, studi lapangan bukan sekadar untuk jalan-jalan”, tegas beliau. Selain itu, ketika diminta melepas rombongan, beliau berseloroh, “Saya tidak akan melepas rombongan Stulap ini karena saya juga akan ikut rombongan…”
Bersama 2 dosen dan 4 pegawai Sekretariat STAN, peserta stulap 2012 siap meluncur dengan 4 buah bus Big Bird. Mobil yang dikendarai oleh dosen dan sekretariat berada di posisi terdepan disusul oleh Bus Tekbang, Bus IUT, Bus AMPL, dan Bus Pembang di urutan terakhir.
Setelah empat jam perjalanan menyusuri kaki gunung Salak, dengan jalan yang berlika-liku, menanjak, dan menurun tajam, akhirnya rombongan tiba di pintu gerbang PT Chevron. Selanjutya, petugas keamanan Chevron yang diwakili oleh Bapak Zainal Abidin menyampaikan peraturan-peraturan yang harus dipatuhi oleh peserta ketika berada di kawasan pemberdayaan panas bumi tersebut. Kawasan Chevron terletak di kaki Gunung Salak, merupakan pembangkit yang menghasilkan listrik dengan memberdayakan panas bumi. Ternyata di kawasan ini juga terdapat hutan lindung. Maka tidak heran bila menemukan beberapa jenis hewan dan tanaman yang dilindungi oleh pemerintah di tempat itu.
Bertempat di ruangan aula dan dipandu oleh 2 orang MC dari STAN, Ermy dan Gianeka, forum diskusi pun dimulai. Pihak Chevron cukup hangat menyambut kedatangan dan memberikan pelayanan kepada peserta. Hal itu diakui oleh Bapak Majdi Ali, Dosen Pemeliharaan Bangunan, STAN. Materi tentang profil Chevron disampaikan dengan tuntas oleh Bapak Sudarwo, selaku Manajer Bidang Humas PT Chevron. Selanjutnya, dibahas pula materi operasi panas bumi oleh Bapak Ali Said dengan sangat sistematis. Prinsip kerja pembangkit listrik tenaga panas bumi sama dengan prinsip kerja ketel air. Air dipanaskan dengan panas bumi kemudian diolah dengan proses tertentu sehingga uap yang dihasilkan diubah menjadi energi listrik. Meskipun lelah karenaperjalanan yang cukup panjang, peserta tetap menunjukkan sikap antusiasnya. Hal ini terbukti dengan banyaknya peserta yang ingin bertanya saat forum tanya jawab. Apalagi ada banyak hadiah yang disediakan Chevron untuk peserta yang mengajukan pertanyaan.Ada kaos, mug, kotak pensil, topi, dll. Pak Ali Said, pemateri Chevron menyatakan kebanggaannya, “Senang sekali rasanya banyak yang tanya…”
Agenda selanjutnya adalah survai langsung ke lokasi. Dipandu oleh Bapak Hardian, staf Bidang Humas, peserta di bus Pembang menyimak penjelasan beliau. Di sepanjang perjalanan terdapat banyak pipa-pipa besar. Beliau menjelaskan bahwa setiap pipa tersebut telah dihitung dan diatur sedemikian rupa agar mekanisme pengolahan panas bumi berjalan dengan baik. Di kawasan cooling tower, fasilitas yang berfungsi mendinginkan air untuk diinjeksikan kembali ke well, peserta berfoto bersama. Walaupun udara kurang nyaman karena bau gas H2S, kebahagiaan tetap jelas terpancar di wajah peserta. “Jauhnya perjalanan terbalaskan dengan banyaknya ilmu yang didapatkan”, ungkap salah satu peserta.
Pukul 15.00 peserta masuk kembali ke dalam bus untuk perjalanan pulang. “Terima kasih banyak untuk Pak Majdi dan Pak Riko, serta segenap pihak sekretariat yang membantu, Be the Real Valuer”, jelas Calvin saat ditanyakan seusai acara.